Kombinasi Warna Batik Peksi Parang Beraskecer: Panduan & Proses 3× Celup Warna + 3× Nyanting.
Dalam dunia batik tulis, warna bukan sekadar estetika. Warna dalam motif Peksi Parang Beraskecer memiliki makna, karakter, dan teknik aplikasinya sendiri. Warna yang dipilih tidak hanya menciptakan harmoni visual, tetapi juga memperkuat pesan filosofis dari motif itu sendiri.
Pada halaman ini, kita akan membahas warna klasik yang biasa digunakan pada motif Peksi Parang Beraskecer — serta menjelaskan proses teknik warna batik yang melibatkan proses 3× celup warna dan 3× nyanting untuk menghasilkan gradasi warna yang dalam, kaya, dan penuh karakter.
Pentingnya Warna dalam Batik Tulis
Warna batik bukan sekadar soal menarik mata. Dalam batik tulis tradisional, pewarnaan merupakan hasil proses panjang yang membutuhkan ketelitian, perhitungan, dan pengalaman perajin. Warna yang digunakan mencerminkan budaya, filosofi, dan suasana yang ingin ditampilkan.
Motif Peksi Parang Beraskecer sering menggunakan warna klasik seperti:
- Sogan – memberi nuansa tradisional dan elegan
- Coklat Tua – menunjukkan kedalaman makna
- Krem / Beige – memberi keseimbangan netral
- Hitam – menambah wibawa
- Oker / Emas – aksen mewah tanpa berlebihan
Untuk memahami konteks simboliknya, bacalah artikel kami tentang:
👉 Simbol Peksi Parang Beraskecer
Teknik Pewarnaan Batik Tulis: Dasar Proses
Pewarnaan batik tulis dilakukan secara bertahap. Tidak semua area kain diwarnai sekaligus. Bagian yang ingin tetap berwarna dasar atau warna sebelumnya akan ditutup dengan malam sebelum proses pencelupan berikutnya.
Proses pewarnaan pada motif Peksi Parang Beraskecer umumnya melalui beberapa tahapan celup warna dan nyanting untuk membentuk motif serta gradasi yang kaya.
Proses Utama: 3× Celup Warna + 3× Nyanting
Berikut gambaran alur pewarnaan tradisional untuk motif ini:
🔹 1. Nyanting Pertama – Gambar Pola Awal
Pertama, motif Peksi Parang Beraskecer digoreskan dengan canting dan malam secara keseluruhan pada kain putih polos. Ini menjadi kerangka utama motif.
Setelah seluruh motif tergambar, kain siap untuk celupan pertama.
—
🎨 2. Celup Warna Pertama – Dasar Warna Sogan
Kain dicelup ke warna dasar seperti sogan atau krem muda. Warna ini akan menjadi latar motif utama. Setelah dicelup, kain dikeringkan.
Setelah kering, malam kembali diisi ulang melalui nyanting pada bagian motif yang ingin dipertahankan warna dasar.
—
🔹 3. Nyanting Kedua – Detail Motif Warna Gelap
Pada tahap ini, bagian motif yang ingin memperoleh warna lebih gelap (misalnya coklat tua atau hitam pada bagian tertentu dari Parang dan Peksi) disekat dengan malam. Ini menyiapkan area yang akan dicelup warna kedua.
—
🎨 4. Celup Warna Kedua – Warna Gelap (Coklat Tua / Hitam)
Kain kemudian dicelup ke warna gelap seperti coklat tua atau terkadang hitam pada beberapa area.
Warna kedua ini mempertegas motif dan memberi kedalaman kontras antara latar dan garis motif utama.
Setelah celup kedua selesai, kain dikeringkan lagi sebelum malam kembali diisi.
—
🔹 5. Nyanting Ketiga – Sketsa Aksen Warna
Pada tahap ketiga nyanting, malam diaplikasikan kembali pada sejumlah area motif yang ingin dilindungi sebelum celupan ketiga. Biasanya ini untuk bagian yang akan mendapat aksen warna seperti oker atau krem lembut.
—
🎨 6. Celup Warna Ketiga – Aksen Warna & Refinement
Celupan ketiga ini biasanya menggunakan warna aksen seperti oker, emas lembut, atau krem tua. Ini memberi keseimbangan visual dan memperkaya gradasi motif.
Setelah celup ketiga selesai, kain kemudian dikeringkan dengan hati-hati sebelum masuk ke tahap pelorodan.
Pelorodan – Menghilangkan Malam
Setelah semua tahapan pewarnaan selesai, kain kemudian melalui pelorodan — yaitu proses menghilangkan semua malam dari serat kain. Ini dilakukan dengan larutan khusus, sehingga motif warna yang rumit terlihat jelas dan bersih.
Pelorodan harus dilakukan dengan teknik tepat agar warna tidak pudar atau texture kain tidak rusak.
Mengapa Menggunakan Proses Berulang?
Proses pewarnaan berulang seperti 3× celup dan 3× nyanting bukan tanpa tujuan:
- Warna lebih dalam karena meresap di serat
- Gradasi lebih hidup dan tidak tampak datar seperti batik printing
- Detail motif lebih tajam karena bagian tertentu terlindungi malam
- Harmoni visual yang seimbang antara latar, motif, dan aksen
Ini adalah alasan mengapa batik tulis motif Peksi Parang Beraskecer terasa sangat elegan dan bernilai seni tinggi.
Warna & Filosofi
Selain aspek estetika, warna pada batik tulis juga memiliki filosofi:
- Sogan → keanggunan dan warisan tradisional
- Coklat Tua → kedalaman pengalaman
- Hitam → kewibawaan
- Oker / Emas → kemewahan tanpa kesombongan
Jika Anda ingin tahu makna simbol lebih dalam, kami juga membahasnya di:
👉 Filosofi Motif Peksi Parang Beraskecer
Contoh Batik Tulis Warna Klasik: BTX 517
Salah satu contoh kombinasi warna klasik yang elegan dan sarat makna diterapkan dalam:
Batik Tulis Asli BTX 517 — motif Peksi Parang Beraskecer
Produk ini menggunakan perpaduan warna klasik yang telah melalui proses nyanting dan celup berulang, sehingga menghasilkan motif yang tajam, kaya gradasi, dan bernilai seni tinggi.
Lihat detail produknya di:
👉 Batik Tulis Asli BTX 517 – Motif Peksi Parang Beraskecer
Kesimpulan
Kombinasi warna batik Peksi Parang Beraskecer bukan sekadar visual. Ia merupakan hasil proses panjang dengan tahapan 3× celup warna dan 3× nyanting yang bertujuan menciptakan warna lebih dalam, detail motif lebih tajam, serta harmoni visual yang kuat.
Warna yang dipilih tidak hanya mencerminkan estetika, tetapi juga filosofi budaya yang mendalam.
Artikel terkait:

WhatsApp Pak Mudzakir