Sejarah Motif Peksi Parang Beraskecer.
Motif batik bukan hanya soal visual estetika, tetapi juga cerita panjang warisan budaya yang turun-temurun dari generasi ke generasi. Salah satu motif paling bersejarah dan sarat makna adalah Peksi Parang Beraskecer. Motif ini bukan hasil tren belaka, tetapi representasi filosofi yang telah hidup selama berabad-abad.
Pada halaman ini, kita akan menggali sejarah motif Peksi Parang Beraskecer — mulai dari akar budaya, perjalanan waktu, hingga bagaimana motif ini semakin relevan di dunia modern.
Asal-usul Motif Parang dalam Sejarah Batik
Motif Parang adalah motif batik tertua di Indonesia yang sudah dikenal sejak masa Kerajaan Mataram Islam abad ke-16. Kata “Parang” diperkirakan berasal dari bahasa Jawa kuno “pereng” yang berarti lereng atau kemiringan — menggambarkan garis diagonal kuat yang turun dari atas ke bawah. Beberapa ahli batik menyebut motif Parang sebagai bentuk simbolik dari ombak yang tak pernah berhenti menghantam karang, menggambarkan semangat yang tak kenal lelah.([source](https://www.gramedia.com/best-seller/batik-parang-motif/?utm_source=chatgpt.com))
Pada masa itu, motif Parang diperuntukkan khusus bagi kalangan bangsawan dan keluarga kerajaan karena makna filosofisnya yang kuat: keteguhan hati, keberanian, dan konsistensi — kualitas yang wajib dimiliki seorang pemimpin.
Motif ini kemudian berkembang ke berbagai wilayah Jawa dan digunakan dalam beragam bentuk batik. Namun, motif Parang tidak pernah kehilangan nilai historisnya sebagai lambang kekuatan dan ketangguhan.
Simbol Burung (Peksi) dalam Tradisi Jawa
Sementara itu, simbol burung atau “Peksi” dalam budaya Jawa memiliki makna spiritual dan batin yang mendalam. Burung sering dikaitkan dengan kebebasan, pandangan yang luas, dan hubungan antara dunia material dan spiritual. Mereka dianggap sebagai makhluk yang mampu melintasi batas langit dan bumi — sebuah simbol keterhubungan antara manusia dan semesta.
Dalam seni batik, simbol burung tidak selalu umum, tetapi dalam motif Peksi Parang Beraskecer, ia menjadi unsur sentral yang memperkuat pesan filosofis dari motif batik itu sendiri.
Makna “Beraskecer” dalam Motif
“Beraskecer” secara harfiah bisa diartikan sebagai bentuk gerak dinamis, mirip dengan butiran yang tersebar. Ketika unsur ini diaplikasikan dalam motif batik, ia mencerminkan perjalanan hidup yang terus mengalir dan berkembang — tidak statis, selalu bergerak maju.
Jadi ketika ketiganya — Parang, Peksi, dan Beraskecer — bergabung dalam satu motif, kita mendapatkan sebuah kisah visual yang komprehensif tentang kehidupan: keberanian untuk memulai, kebebasan untuk menentukan arah, dan kesinambungan dalam setiap langkah perjalanan.
Motif Peksi Parang Beraskecer di Keraton Jawa
Dalam sejarah perbatikan keraton Jawa, motif tertentu hanya boleh dikenakan oleh kalangan tertentu saja. Misalnya, motif parang yang lebih rumit seringkali hanya untuk bangsawan. Peksi Parang Beraskecer sendiri adalah salah satu motif yang dipandang sangat istimewa karena menggabungkan unsur simbolis dari kekuatan, kebebasan, dan kesinambungan.
Penguasa keraton memandang motif ini sebagai cerminan kualitas kepemimpinan: seseorang yang kuat, berpandangan jauh, dan mampu menjaga kesinambungan budaya serta keharmonisan masyarakat.
Motif Peksi Parang Beraskecer di Era Modern
Di masa modern, motif Peksi Parang Beraskecer tidak hanya tertahan dalam nuansa tradisional Keraton saja. Ia turut berkembang dan dipakai oleh berbagai kalangan yang menghargai nilai seni dan filosofi batik.
Motif ini kini ditemukan pada berbagai medium: dari kain batik premium seperti seri BTX 517 yang kami tawarkan di mudzakir.com, hingga koleksi haute couture, dan pakaian profesional yang ingin menyampaikan karakter kuat dan berkelas.
Motif ini juga semakin populer di acara formal, wedding, hingga konferensi bisnis internasional — bukan sekadar karena keindahannya, tetapi juga karena makna yang dibawanya.
Perjalanan Motif ke Dunia Internasional
Batik termasuk dalam Warisan Budaya Tak Benda UNESCO sejak 2009. Sejak itu, motif batik seperti Peksi Parang Beraskecer semakin mendapat perhatian global. Banyak desainer luar negeri yang mengangkat motif batik dalam koleksinya, tetapi motif klasik seperti Peksi Parang Beraskecer tetap menjadi favorit di kalangan pencinta batik sejati.
Hal ini menunjukkan bahwa motif batik bukan sekadar gaya visual, tetapi bentuk ekspresi budaya yang mampu melintasi batas geografis dan waktu.
Filosofi Hidup yang Terkandung dalam Sejarah Motif Ini
Secara filosofis, motif Peksi Parang Beraskecer mengajarkan beberapa pesan penting:
- Keteguhan — Terus bergerak maju meskipun menghadapi rintangan.
- Kebebasan berpikir — Membuka wawasan dan pandangan jauh ke depan.
- Continuity (Kesinambungan) — Nilai-nilai luhur jangan berhenti di satu generasi.
- Kebijaksanaan — Hidup tidak hanya soal kekuatan, tetapi juga tentang cara bertindak.
Pesan semacam ini sangat relevan tidak hanya di masa lalu tetapi juga dalam konteks kehidupan modern — baik dalam kepemimpinan, karier, maupun kehidupan pribadi.
Kesimpulan
Motif Peksi Parang Beraskecer adalah hasil dari sejarah panjang perjalanan budaya batik Indonesia. Ia bukan motif biasa — ia adalah simbol keteguhan, kebebasan, dan kesinambungan yang hidup dalam setiap goresan canting. Nilai-nilai yang disampaikan oleh motif ini menjadikannya tidak lekang oleh waktu.
Ketika Anda mengenakan batik motif ini, Anda tidak hanya memakai kain — Anda memakai sejarah yang hidup, filosofi yang mendalam, dan identitas budaya yang kuat.
Artikel Terkait:

WhatsApp Pak Mudzakir