Makna Filosofi Motif Peksi Parang Beraskecer pada Batik Tulis Asli.
Batik bukan sekadar kain. Ia adalah warisan budaya Nusantara yang sarat sejarah dan pesan moral. Motif batik yang kita kenakan bukan hanya memperindah penampilan, tetapi juga menyampaikan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Salah satu motif batik tertua dan termahal dalam sejarah perbatikan adalah motif Parang. Dan ketika unsur simbolis ini dipadukan dengan simbol burung (Peksi) dan kecermatan motif beraskecer, lahirlah motif yang sangat kaya makna: Peksi Parang Beraskecer.
Halaman ini akan membongkar makna filosofisnya secara lengkap — dari akar budaya, arti simbol, hingga relevansinya di kehidupan modern.
Apa Itu Motif Parang?
Motif Parang adalah salah satu motif batik tertua di Indonesia. Kata “Parang” dipercaya berasal dari bahasa Jawa “pereng” yang berarti lereng atau kemiringan — menggambarkan garis diagonal kuat yang turun dari atas ke bawah. Bentuknya yang menyerupai huruf “S” yang berulang mencerminkan kesinambungan yang tak pernah terputus.:contentReference[oaicite:0]{index=0}
Secara historis, motif Parang dulu hanya diperbolehkan dipakai oleh kalangan bangsawan dan keluarga kerajaan karena makna filosofinya yang kuat. Ia melambangkan kekuatan, keteguhan hati, dan semangat tak pernah menyerah — seperti ombak yang terus-menerus menghantam karang tanpa henti.:contentReference[oaicite:1]{index=1}
Dengan demikian, motif Parang bukan sekadar hiasan, tetapi juga pesan moral tersirat tentang perjalanan hidup manusia yang penuh tantangan.
Simbolisme Utama dalam Motif Peksi Parang Beraskecer
Dalam motif Peksi Parang Beraskecer, terdapat tiga elemen simbolis utama yang saling menguatkan:
1. Parang — Simbol Keteguhan & Keberanian
Garis diagonal dalam motif Parang memancarkan semangat hidup yang tidak mudah patah. Filosofi klasiknya menegaskan bahwa manusia harus memiliki:
- Keteguhan dalam prinsip hidup
- Keberanian dalam menghadapi rintangan
- Semangat yang tak pernah putus
Motif ini mengajak pemakainya untuk terus bergerak maju, bahkan ketika menghadapi tantangan terbesar sekalipun — sama seperti ombak di laut selatan yang tak pernah berhenti menghantam karang.:contentReference[oaicite:2]{index=2}
2. Peksi (Burung) — Simbol Kebebasan & Visi Tinggi
Simbol burung atau “Peksi” menggambarkan kebebasan spiritual dan pikiran yang tinggi. Tak hanya itu, ia juga melambangkan kemampuan seseorang untuk melihat dunia dari perspektif yang lebih luas — layaknya burung yang terbang di atas angkasa.
Peksi mengajarkan kita untuk memiliki visi jauh ke depan — melampaui batasan duniawi — dan tidak terjebak oleh rutin kehidupan sehari-hari.
3. Beraskecer — Simbol Kesinambungan Hidup
Istilah “Beraskecer” dalam motif ini menguatkan pesan tentang dinamika kehidupan yang terus bergerak. Seperti butiran beras yang tersebar, motif ini menggambarkan kontinuitas usaha, keharmonisan hubungan, dan kesinambungan spiritual antara generasi. Simbol ini mengajak kita untuk tidak hanya hidup untuk diri sendiri, tetapi juga meneruskan nilai-nilai luhur kepada generasi berikutnya.
Nilai Moral dalam Motif Ini
Ketika kita memadukan ketiga simbol tersebut, kita akan menemukan pesan moral yang sangat mendalam:
- Keteguhan prinsip dalam segala aspek kehidupan
- Keberanian untuk mengambil keputusan penting
- Kebebasan berpikir dan visi jauh ke depan
- Kesinambungan nilai dalam hubungan keluarga dan masyarakat
Pesan-pesan ini membuat motif Peksi Parang Beraskecer bukan hanya indah secara visual, tetapi juga bermakna secara spiritual dan psikologis.
Filosofi Motif Ini dalam Budaya Jawa & Keraton
Motif Parang dalam sejarah batik Jawa adalah motif yang sangat dihormati. Dahulu, motif-motif Parang tertentu hanya dipakai oleh kerabat keraton, khususnya mereka yang memiliki posisi tinggi dalam struktur sosial. Hal ini karena motif tersebut dianggap membawa “tuah” atau kekuatan spiritual bagi pemakainya — terutama untuk pemimpin dan orang-orang yang memikul tanggung jawab besar.:contentReference[oaicite:3]{index=3}
Sementara itu, simbol burung (Peksi) erat kaitannya dengan kebebasan batin, nilai luhur yang juga sangat dihargai dalam filosofi Jawa klasik.
Ketika kedua simbol ini disatukan dalam satu motif dengan kecermatan motif beraskecer, batik tidak hanya menjadi pakaian, tetapi juga representasi karakter dan watak pemakainya.
Relevansi Filosofi dalam Kehidupan Modern
Mengapa filosofi batik tradisional seperti ini tetap relevan di zaman modern? Karena inti pesan yang terkandung di dalamnya adalah universal:
- Semangat pantang menyerah dalam menghadapi tantangan hidup
- Kebebasan berpikir dalam berinovasi dan berkembang
- Kesinambungan nilai antar generasi
- Keteguhan moral dalam menghadapi realitas sosial
Seorang profesional modern, entrepreneur, atau pemimpin organisasi yang memakai motif batik ini secara tidak langsung mencitrakan dirinya sebagai pribadi yang memiliki karakter kuat, visi jauh ke depan, dan keseimbangan batin. Ini adalah salah satu alasan mengapa motif batik klasik semakin populer di acara resmi, bisnis, dan koleksi pribadi.
Motif Peksi Parang Beraskecer & Produk BTX 517
Seri BTX 517 merupakan representasi sempurna dari filosofi di atas. Motifnya dipilih bukan sekadar karena estetika, tetapi juga karena makna filosofisnya yang kuat dan relevan bagi pembeli yang menghargai nilai budaya dan simbolisme batik. Anda dapat melihat detail produk di:
👉 Jual Kain Batik Tulis Asli Motif Peksi Parang Beraskecer – BTX 517
Kesimpulan
Motif Peksi Parang Beraskecer adalah lebih dari sekadar pola visual. Ia merupakan sintesis filosofi klasik Jawa yang menggabungkan unsur kekuatan, kebebasan, dan kesinambungan hidup. Motif ini mengajak pemakainya untuk menjadi pribadi yang teguh, berani, dan berpikiran tinggi, tetapi tetap membawa nilai-nilai luhur yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Dengan memahami filosofinya, kita tidak hanya mengenakan batik sebagai pakaian, tetapi juga sebagai identitas pribadi yang berkarakter.
Artikel terkait:

WhatsApp Pak Mudzakir